Backpacking Singapore-Melaka-KL Story ( DAY 3 = From Singapore to Melaka, Jonker Walk, Kampung Hulu Mosque )

by - April 19, 2017

Pagi telah tiba, gue bangun dari tidur gue yang cuma kurang lebih 3 jam. Sumpah gue ngerasa kaya zombie. Temen gue hari ini flight balik ke Jakarta, dan disini saatnya gue melanjutkan perjalanan gue sendiri, not really alone sih sebenernya. Karena gue bakalan go straight sama Gendis. Yang gue lakuin setelah bangun adalah cari minum dan cari dispenser untuk buat energen, setelah bertanya ke costumer service gue bergegas bikin minum. Selesai buat energen, gue charge peralatan gue yaitu hp dan kamera digital untuk berperang hari ini. Haha. Ah iya, ada kakak yang namanya kak Vyvyn, dia kasih gue salah satu boneka pokemon yang ada di Changi (katanya pas gue tidur bonekanya ini di bagi-bagi, dan kebetulan kakak ini ngambilin buat gue sebagai hadiah ulang tahun katanya. Big thanks kak!) kurang lebih jam 9 lewat setelah gue selesai melakukan ritual pagi, gue pamit sama kakak-kakak ini dan take a wefie first! Cheers. Berhubung gue beli STP yang masa berlakunya 2 hari, so udah pasti masa berlaku STP gue habis hari ini. Jadi gue kembali ke ticket office ambil jaminan gue seharga $10. Dan gue beli tiket kereta (ibaratnya semacam tiket Komuter Jabodetabek) untuk menuju woodlands untuk sarapan, ini rekomendasi dari Seri katanya makanan disini enak, murah, halal. Dan ini fakta.


Last picture in Changi with those persons
Chicken Roast
Perjalanan dari Changi menuju Woodlands ini cukup memakan waktu, dan cukup buat gue untuk memejamkan mata sebentar yang diakibatkan tidur cuma 3 jam sebelumnya. Setelah sampai di Woodlands, lokasi yang di rekomendasikan Seri ternyata dekat, setelah keluar gue langsung bergegas menuju tuantuan.puanpuan (tempat makan) dan segera memesan makanan termurah terenak disana. Selesai isi perut, waktunya untuk melanjutkan perjalanan lagi ke stasiun Kranji. Setibanya di Kranji, gue langsung mencari dimana spot untuk naik bus. Agak bingung sih, tapi gue udah tau mau naik bus apa. Yaitu Causeway Link menuju Larkin Terminal, busnya berwarna kuning. Nanti kita bakalan 2x turun untuk imigrasi, pertama cek imigrasi di woodlands (tadi gue makan di woodlands, kenapa gak langsung cari bus ya? Hm.) dan yang kedua di Johor Bahru. Agak ribet sih memang. Untuk barang, jangan lupa dibawa semua dikarenakan kita bakalan pindah bus setelah cek imigrasi dan tidak perlu bayar lagi. Cukup cari bus Causeway Link yang lainnya dan menunjukan tiket bus kita, jadi jangan di buang ya tiketnya. (Baca juga: How To Get To Melaka From Singapore)

Sesampainya di Larkin terminal, berasa di kampung rambutan. Banyak calo yang nawarin tiket dan memang sedikit memaksa untuk beli. Yang perlu kita lakukan adalah memasang wajah yakin dan gak kebingungan walaupun bingung, dan tolak baik-baik “i have a ticket already, thanks for the offer.” Setelah itu, gue langsung cari bus yang menuju Melaka Sentral dan mencari yang murah juga pastinya. Akhirnya gue memutuskan untuk naik bus Mayang Sari Express, karena kebetulan ada bus yang berangkat pukul 01.00pm, dan saat gue sampe sekitar jam 12.45. Gue cuma nunggu sebentar, dan kemudian busnya datang. Langsung gue bergegas naik ke bus, dan menyiapkan posisi terenak untuk tidur. Dari google maps, gue liat jarak antara Larkin Terminal ke Melaka Sentral sekitar 3 jam.


Disaat gue membuka mata gue, gak lama gue sampai di Melaka Sentral. Gue masuk ke dalam terminalnya dan mencari konter tiket untuk membeli tiket menuju The Stadthuys atau Bangunan Merah. Gue tiba di Bangunan Merah ini sekitar jam 5 sore, jadi sekitar 4 jam dari Larkin ke Bangunan Merah. Sebenarnya bisa lebih cepat, tapi saat di Melaka Sentral nunggu bus menuju Bangunan Merah ini agak lama. Ah ya, saat di Melaka Sentral ada orang dari Thailand yang tiba-tiba bertanya ke kita tentang bus ke Bangunan Merah. Dia menunjukan petanya dia, gue dan Gendis menjawab kalau kita juga mau kesana. Namanya Tar, dia baik dan juga sampai ngasih tau kita tempat untuk mengambil peta. Kita ngobrol dengan bahasa inggris seadanya (karna pengucapan dia bikin gue kurang paham) dan kita berpisah di Bangunan Merah.


 
Kaya Kota Tua Ya?
Hal yang pertama dilakuin adalah foto, setelah foto barulah mencari hostel yang udah di booking sama Gendis. Luckily, hostelnya dekat dan gampang ditemukan yaitu Discovery Guesthouse Hostel. (Baca Juga: Discovery Guesthouse Hostel Melaka) Kita langsung check in, dan yang utama kita istirahat dan juga mandi. Udah cukup seharian bau kambing, hm. Di dorm ini, cuma ada tiga orang yaitu gue, Gendis dan laki-laki dari Philipina yang bakalan check out besok pagi. Sekitar 45 menit beristirahat, mandi dan beres-beres kita langsung keluar dan menikmati suasana sore di Melaka. 




Disaat gue keluar dari hostel, gue disambut sama pemandangan yang super banget! Ah, makin suka banget gue sama pemandangan disini. Gue merasa cocok banget sama suasana disini karena semua disini serba bersih dan terawat. Walaupun disini dianggapnya sebagai kota yang tua tapi terawat. Melaka World Heritage City, itulah sebutan Melaka ini yang resmi diberikan UNESCO sejak tahun 2008.  Melaka rivernya bersih, dan gue merasakan sedikit suasana eropa disini (walaupun gue belom pernah ke eropa), sepanjang jalan rasanya romantis banget. Lampu-lampu, sungainya, dan segalanya. Kendaraan disini mayoritas kendaraan lama, ada juga yang mengendarai sepeda, ah keren lah pokoknya. Gue suka banget suasana di Melaka. Tenang, dan gak bising.








Keliling-keliling juga ternyata bikin pegel kaki dan laper pastinya, gak kerasa terakhir makan itu tadi siang. Kita berdua mencari makanan di Jonker Walk, ada yang jual makanan di gerobak gitu. Pas di tanya halal atau engga, jawabannya engga. Kita terus jalan, muter-muter cari makan, dan akhirnya nemu juga makanan halal. Alhamdulillah. Tapi, pas ditanya ternyata makanannya habis. Hahahaha. Jonker Walk ini salah satu spot terkenal di Melaka, semacam Chinatown gitu sih, makanya wajar susah makanan halal. Salahnya, kita berdua gak ada yang browsing sebelumnya tentang makanan halal yang wajib di coba. Bermodalkan peta, kita jalan menuju Kampung Hulu Mosque (karena biasanya dimana ada Masjid, disitu ada makanan halal) dan benar, akhirnya kita menemukan makanan halal. Nama makanannya adalah Nasi Goreng Kampung, enak dan cukup mengenyangkan. Selesai makan, gue menuju Masjid sebentar untuk sholat pastinya dan mencoba mengingat dimana kiblatnya biar pas di hostel bisa sholat subuh.


Nasi Goreng Kampung
Masjid Kampung Hulu
Motor Legend
Selesai sholat kita mencoba mencari jalan yang berbeda untuk balik ke hostel dan lagi-lagi malah nyasar. Di Melaka ini jam 9 malam aja sepinya bukan main, agak ngeri juga sih. Maka dari itu kita mau langsung buru-buru balik ke hostel. Selesai nyasar terbitlah jalan menuju hostel, segeralah kita berdua istirahat dikarenakan besok siang akan menuju Kuala Lumpur. Sebenarnya ingin tambah hari disini, tapi berhubung waktu yang sempit jadi terkesan buru-buru. Semoga aja dilain waktu bisa balik kesini lagi.

Biaya Pengeluaran

You May Also Like

0 comments