The Ocean Cleanup for Rescue! (Upaya Meminimalisir Sampah Plastik yang Masuk ke Laut Melalui Sungai)

Permasalahan plastik di Indonesia adalah permasalahan yang sangat sulit untuk diselesaikan. Satu persatu cara dilakukan agar berkurangnya sampah plastik, dengan cara mengurangi penggunaan kantong plastik, sedotan hingga berbagai macam cara dilakukan agar berkurangnya sampah plastik. Perihal membuang sampah sembarangan rasanya masih menjadi hal yang sepele bagi sebagian orang. Seperti membuang sampah kecil dan dibuang tidak ditempatnya, pikir kita "ah.. hanya sampah ini saja kok." Bisa dibayangkan apabila 100juta orang yang melakukan hal tersebut, apakah membuang sampah sembarangan masih menjadi hal yang sepele? Maka dari itu peduli lingkungan perlu ditanamkan melalui pendidikan sejak usia dini agar generasi selanjutnya terbiasa untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Mari Bijak dalam Menggunakan Plastik!

Tahukah kalian bahwa 80% sampah plastik berasal dari aktivitas daratan yang mengalir ke laut melalui sungai? Coba bayangkah jika 80% sampah tersebut menyatu dengan air laut, dampak buruk apakah yang akan terjadi? Banyak. Dan yang pasti dengan banyaknya sampah plastik yang mengalir ke lautan melalui sungai, akan menjadi salah satu permasalahan yang akan memberikan kerugian bagi kita semua. Total sampah di Indonesia sendiri sejumlah 1,8 ton/hari atau 6770 ton/tahun dengan pengoperasian 24jam/hari. Dengan sampah plastik yang diambil sebesar 466kg/hari atau sekitar 170ton/tahun.

The Ocean Cleanup 


Pada hari Kamis, 31 Oktober lalu saya menghadiri diskusi terbuka bersama Danone-AQUA serta dihadiri oleh Boyan Slat selaku Founder dan CEO The Ocean Cleanup yang baru berumur 25 tahun namun telah menemukan suatu alat yang memiliki fungsi mencegah masuknya sampah ke laut melalui sungai, dan dihadiri oleh Corine Tap selaku Direktur Utama PT Tirta Investama (Danone-AQUA) serta dihadiri oleh para pemateri lainnya yang memberikan insight mengenai bagaimana caranya mengurangi permasalahan sampah. Dari permasalahan sampah yang telah dijelaskan sebelumnya, apakah ada cara dan upaya yang dapat dilakukan agar bisa mengurangi jumlah sampah di Indonesia? Interceptor 001 dapat mengurangi 60% sampah di sungai yang menuju ke laut. Angka ini dapat meningkat, terutama saat riset lanjutan yang akan dilanjutkan dimusim hujan. Pemerintah menargetkan 70% pengurangan sampah plastik di laut pada tahun 2025.

Boyan Slat Founder and CEO The Ocean Cleanup
Boyan Slat, Founder dan CEO The Ocean Cleanup.
Jadi apakah Interceptor 001 itu sendiri? Inteceptor 001 adalah sistem pertama yang diciptakan The Ocean Cleanup untuk mencegah masuknya sampah plastik ke laut lewat sungai. Inteceptor ini sendiri adalah hasil dari pemikiran Boyan Slat selaku Founder dan CEO The Ocean Cleanup sebagai salah satu upaya mengurangi sampah yang masuk ke laut lewat sungai. Hingga saat ini, sudah ada empat Interceptor di dunia: dua diantaranya telah beroperasi di Jakarta (Indonesia) dan Klang (Malaysia). Sistem ketiga akan segera ditempatkan di Can Tho yang terletak di Mekong Delta (Vietnam), dan sistem keempat akan ditempatkan di Santo Domingo (Republik Dominika).

Danone-AQUA Bersama The Ocean Cleanup Upaya Mengurangi Sampah Plastik yang Mengalir ke Laut melalui Sungai


Inteceptor 001 saat ini berada di drainase Cengkareng (Cengkareng Drain), Pantai Indah kapuk, Jakarta. Dengan sistem yang sangat ramah lingkungan karena 100% bertenaga surya dengan baterai lithum-ion sehingga dapat beroperasi siang dan malam tanpa ada gangguan suara bising maupun asap. Direktur Utama PT Tirta Investama (Danone-AQUA), Corine Tap mengatakan "Kami sangat berbahagia dapat bekerjasama dengan The Ocean Cleanup untuk mengoperasikan sistem pertama yang bukan hanya dapat mencegah sampah plastik masuk ke laut, namun juga membantu membersihkan sungai-sungai."


mari bijak berplastik

Untuk mengurangi pencemaran sampah plastik pun, AQUA menghadirkan botol yang dapat di daur ulang sehingga ramah lingkungan dan juga bisa di recycle, hal tersebut adalah salah satu bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan di Indonesia melalui kerjasama dengan mitra dan juga jutaan konsumen. Dalam diskusi tersebut dihadiri juga oleh Hamish Daud selaku selebriti dan Pendiri Indonesian Ocean Pride mengatakan "AQUA benar-benar brand yang mampu membuktikan diri sebagai brand pionir dan membuktikan bahwa kolaborasi untuk melakukan hal-hal positif dan nyata bagi lingkungan sangat mungkin dilakukan."



Pada kunjungannya ke Sukabumi belum lama ini, ia sangat prihatin melihat sampah yang berserakan dilingkungan pantai di Sukabumi. Saya pun sangat terenyuh melihatnya dan sangat kecewa terhadap orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam membuang sampah sembarangan. The Ocean Cleanup sudah memulai penelitian dan project untuk sungai sejak tahun 2015. Inteceptor 001 ini pun merupakan bagian dari kerjasama penelitian antara Danone dan The Ocean Cleanup yang dimulai pada Januari 2018. Penelitian yang berlangsung di lokasi yang sama dengan Inteceptor 001 tersebut mencakup 3 lingkup, yaitu:

  1. Plastic Waste Flow - mengukur kuantitas dan tipologi sampah plastik di sungai
  2. Facility Design - mengembangkan sistem pemilahan yang efektif dan aman untuk memproses sampah plastik dari sungai
  3. End Market Solution - mengidentifikasi teknologi dan industri yang mampu mendaur ulang sampah plastik dari sungai

"Dengan segala program yang dijalankan, kami bertargetkan tahun 2025 dapat terwujud untuk mengurangi sampah yang masuk ke laut melalui sungai." Jelas Corine Tap.


Sebagai masyarakat, kita pun memegang andil dalam upaya mengurangi sampah khususnya sampah plastik. Apa saja yang dapat kita lakukan? Sebenarnya banyak dan juga sangat sederhana. Seperti mengambil makanan secukupnya, agar sisa makanan tidak terbuang dan menyebabkan menjadi sampah. Meminimalisir menggunakan plastik dengan membawa kantung belanja dan membawa tumblr dan tempat makan untuk membawa sisa makanan. Semoga Indonesia akan selalu maju dan menemukan revolusi untuk meminimalisir permasalahan sampah di Indonesia.

No comments