Perayaan Lampion Waisak 2017 (Latern of Hope)

by - May 21, 2017

Niat awal ke Jogja pada mulanya cuma pengen melihat festival penerbangan lampion dalam Perayaan Waisak 2017 di Candi Borobudur. Pertama kali ke Jogja waktu perpisahan sekolah tahun 2014 lalu, otomatis gue gak tau banyak tentang Jogja. Gue udah punya tiket kereta, yang berarti satu langkah menuju Jogja sudah terealisasikan. Gue mulai pasang Public Trip di Couchsurfing, banyak yang mulai send message tapi kebanyakan yang datang terus menghilang. Ini hati, bukan maenan. Oke skip. Gue ketemu Keyra di CS, dia mulai nanya-nanya ke gue tapi gue gak tau mau bales apa karena gue gak tau. Dan berakhir dia ikut Tour buat dateng ke perayaan waisak dengan membayar Rp450.000. Berhubung gue adalah backpacker alias student low cost alias kere, orang kayak gue untuk mengeluarkan Rp1000 aja butuh pertimbangan. Dan pada akhirnya gue mendapatkan temen bareng dari couchsurfing.


Foto by Mas Mahfud
Candi Borobudur itu sendiri adalah Candi Buddha terbesar di dunia, jadi sudah dipastikan banyak umat Buddha baik lokal maupun internasional yang datang ke Candi Borobudur untuk merayakan hari besar umat Buddha. Tema Waisak pada tahun ini adalah “Tingkatkan Kesadaran Menjadi Kebijaksanaan.” Dan ternyata Perayaan Waisak itu sudah dilaksanakan sebelum hari H dikalender. Hari Waisak di kalender jatuh pada 11 Mei 2017, tapi kegiatan yang dilakukan sudah dimulai dari tanggal 6 Mei. Dan festival Lampion dilaksanakan pada 10 Mei 2017. Gue dapet rundown tersebut dari website Walubi.



http://walubi.or.id/waisak-2017/



Gue sampai di Candi Mendut kisaran jam setengah 8 dan memutuskan untuk menunggu di depan. Kita dapat info kalau pendaftaran untuk lampion sudah dibuka sejak pagi, tapi nyatanya masih banyak yang bingung untuk hal tersebut. Gue gak sengaja ngajak ngobrol orang di sebelah gue, dia sendirian. Setelah itu gue memutuskan untuk ngajak join, namanya kak Novi. Gue sih rada kepo, pengen liat meditasi dan ritual yang diadakan di Candi Mendut, tapi berhubung gue non buddhist ditambah lagi berhijab otomatis petugas gak memberikan izin untuk masuk. Berjaga-jaga aja karena takut menganggu yang sedang beribadah.

 






Udah berkali-kali nanya ke penjaga, kapan stand lampionnya dibuka? Petugas juga masih belum yakin kapan. Kita juga masih resah nunggu, sampai akhirnya jam setengah 10 pendaftaran untuk lampion di buka. Me be lyke “Akhirnya...” info yang gue dapatkan dari hasil blog walking ialah membayar Rp100.000/orang untuk lampion. Menurut gue sih, lumayan gede juga biayanya. Tapi ternyata satu lampion itu diterbangkan oleh 4 orang, jadi Rp25.000/orang. Alhamdulillah, biaya gue berkurang wkwkwk. Kita beli 2 lampion karena kita berdelapan. Gue udah mulai excited karena lampion pun udah ditangan. Setelah ini, kita gak tau mau ngapain. Karena arak-arakan dari Mendut ke Borobudur masih lama. Dan akhirnya gue memutuskan untuk numpang tidur di homestaynya kak Widya. 





Sekitar jam 3 kita berangkat ke Candi Borobudur, dan menunggu arak-arakan yang dilakukan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Sebelum arak-arakan dateng, kita ngeliat makanan sd harganya cuma gopek dan lumayan lah, tapi ternyata gak bisa buat kenyang. Kita memutuskan untuk makan dulu sebelum prosesi karena ini bakalan sampe malem. Ternyata pas kita mau makan arak-arakannya dateng, kan suweeee. 

Jajanan waktu jaman SD



Selesai makan, kita gak tau mau ngapain dan sampe akhirnya kita memutuskan untuk sholat dulu mumpung nemu musholla. Jam udah menunjukan pukul 7, akhirnya kita masuk. Bulannya bulat alias bulan purnama, yang menambah cantiknya malam ini. Kita melihat ritual umat buddha yang sedang meditasi. Meditasi itu sendiri dipergunakan sebagai sinonim dari kata (samadhi) yaitu membangun kesadaran dan batin yang baik agar pikiran tidak kacau dan tercapainya kedamaian dan ketenangan. 

Gue kurang tau makna dari lambang ini.
Kita datang ke meja untuk mengambil lampion, namun kenyataannya lampion baru bisa diambil pada pukul 9. Tahun ini banyak yang berbeda dari tahun kemarin. Lampion yang akan diterbangkan pada tahun ini sebanyak 2000 di Taman Aksobhya, berbeda dari tahun lalu yang mencapai 5000 lampion dan di terbangkan di Pelataran Borobudur. Alasan yang gue tau, katanya tahun lalu setelah penerbangan lampion di Pelataran tersebut malah mengakibatkan berantakan di sekitar candi. Penerbangan lampion bukan sekedar simbolis tapi memiliki makna yang penting, yaitu setiap lampion yang diterbangkan terdapat harapan dan doa.


Setelah jam 9 semua orang sudah memenuhi lokasi taman, asli penuh dan berantakan parah! Ternyata, untuk tahun ini penerbangan lampion tidak di terbangkan bersama-sama melainkan dibagi per-sesi. Yang pada awalnya udah excited, malah jadi pengap karena penuh dibanjiri lautan manusia. Ada yang adu mulut, ada yang kecopetan (ada temen gue yang kehilangan hp). Karena penuh parah kita akhirnya memutuskan untuk mundur sesaat dan menunggu sampai sepi.



Akhirnya, suasana udah mulai renggang. Barulah kita memutuskan untuk mengantri lagi. Dikasihlah 2 lampion kita, mau foto juga kayanya mood udah gak kayak awal. Cuma setidaknya apa yang jadi tujuan udah tercapaikan. Dannnnnnn, lampion kita bersama harapannya terbang keatas seperti bintang dan menambah cantiknya bulan malam ini. Selesai kita menerbangkan lampion, sesi ditutup. Saat itu gue sadar, kita dapat sesi terakhir haha.



Ternyata puncak acara nya yaitu setelah lampion, yaitu detik-detik waisak yang dilaksanakan di pelataran Candi Borobudur. Berhubung kita punya kartu peserta jadi pasti kita punya akses untuk masuk, jadi kita memutuskan untuk datang. Kita masuk dengan menunjukan kartu peserta, Kak Wid, Mas Andi dan Mas Kur diperbolehkan masuk sedangkan gue, Kak Diyo dan Kak Novi engga. Kenapa? Karena kita pake hijab. Terlalu menonjol karena ini acara keagamaan. Gue disuruh nunggu dulu, sampai pada akhirnya ada perempuan berhijab diperbolehkan masuk. Kak Diyo langsung ambil action hingga kita diperbolehkan masuk! Yay.



Foto by Mas Mahfud
Gue yang udah ngantuk dikarenakan sudah masuk jam 1 pagi, memutuskan buat tidur dibelakang. Dan minta bangunin kalau lampion akan diterbangkan oleh para biksu. Ternyata, lampionnya diterbangkan satu persatu. Gue dibangunin kisaran jam 3, dikarenakan barengan gue mau pulang. Gue masih ngantuk haha. Acaranya dilaksanakan sampai pagi, dari acara meditasi dan mengelilingi Candi Borobudur dengan membawa Bunga Teratai. 




Foto by Kak Diyoni
Semoga lampion latern di perayaan waisak tahun depan akan lebih baik dari tahun ini, salut deh pokoknya dengan panitia Walubinya. See you in another occasion!

Untuk videonya bisa dilihat disini. Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa! ^^


 

You May Also Like

2 comments

  1. Keren yaaa, mau deh liat banyak lampion kayak gitu tapi kudu siapin mental juga ya.. Ngantri n desak desakan.. Still worth it kayaknya ^^

    Suika-lovers.com

    ReplyDelete
  2. Pengen kesini pas perayaan waisak tapi belum kesampaian, pengen banget

    ReplyDelete

Newsletter

Labels